Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

piaud@iainmadura.ac.id

Merdeka dari Gadget, Berdaulat dalam Pengasuhan: Refleksi Digital Parenting di Hari Kemerdekaan

  • Diposting Oleh Admin Web Prodi PIAUD
  • Kamis, 20 Agustus 2026
  • Dilihat 27 Kali
Bagikan ke

Oleh Dr. Ria Astuti, M.Pd.


Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang mengusung tema Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur mengajak bangsa merenungkan makna kedaulatan pada zaman yang berbeda dari delapan puluh satu tahun lalu. Kedaulatan hari ini tidak lagi sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga menyangkut kemampuan keluarga mengendalikan teknologi yang masuk ke ruang pengasuhan anak usia dini. Fenomena gadget yang hadir sejak usia dini memunculkan pertanyaan mendasar, apakah keluarga Indonesia sudah berdaulat atas teknologi, atau justru mulai dikuasai oleh perangkat digital yang digunakan setiap hari?

Isu ini bukan sekadar persoalan teknis mengatur waktu penggunaan gadget, melainkan cerminan sejauh mana keluarga mampu menjaga kedaulatan nilai di tengah derasnya arus digital. Anak usia dini yang tumbuh berdampingan dengan gadget sejak bayi menghadapi lingkungan belajar yang jauh berbeda dari generasi yang merayakan kemerdekaan pertama kali pada 1945. Pengasuhan digital, atau digital parenting, muncul sebagai respons keluarga terhadap perubahan zaman tersebut, sekaligus menjadi arena baru bagi orang tua mempertahankan kedaulatan mendidik anak di tengah pengaruh teknologi yang terus berkembang.

Penelitian Ria Astuti (2024) di lingkungan masyarakat Muslim Madura memperlihatkan bahwa gaya pengasuhan digital orang tua cenderung membentuk pola campuran, yaitu otoriter-hybrid, demokratis-hybrid, dan permisif-hybrid dalam menghadapi kehadiran gadget di rumah. Temuan tersebut menunjukkan dampak positif berupa peningkatan motorik halus, kognitif, dan kreativitas anak, sekaligus dampak negatif berupa kesulitan bersosialisasi secara langsung serta gejala mudah lelah, bosan, dan sulit berkonsentrasi. Realitas ini memperlihatkan bahwa kemerdekaan anak dari sisi psikologis turut dipertaruhkan ketika keluarga belum memiliki strategi mediasi digital yang tepat.

Penelitian tersebut turut menemukan bahwa keluarga Muslim Madura menginternalisasi nilai-nilai Islam sebagai penyeimbang dampak digital parenting, melalui penerapan prinsip moderasi, penanaman akhlak mulia, serta integrasi pembelajaran Al-Qur'an dan hadis dalam keseharian anak. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kearifan lokal dan nilai keagamaan dapat menjadi kekuatan menjaga kedaulatan budaya bangsa di tengah gelombang teknologi global. Prinsip amar ma'ruf nahi munkar yang diterapkan orang tua dalam pengawasan gadget sejalan dengan cita-cita Indonesia Adil, sebab setiap anak berhak mendapat pendampingan nilai yang setara, tanpa memandang latar belakang wilayah maupun ekonomi keluarga.

Realitas di lapangan memperlihatkan bahwa akses literasi digital orang tua masih beragam antarwilayah, sehingga strategi mediasi gadget belum diterapkan secara merata di seluruh Indonesia. Sebagian keluarga di kota besar sudah menerapkan mediasi aktif dan kesepakatan penggunaan gadget, sementara keluarga di wilayah pinggiran masih membiarkan anak mengakses gadget tanpa pendampingan memadai, sehingga peran negara dalam edukasi literasi digital keluarga menjadi mendesak. Kesenjangan literasi digital semacam ini berisiko memperlebar jurang kualitas tumbuh kembang anak antardaerah, sekaligus menjauhkan Indonesia dari cita-cita kemakmuran yang merata bagi seluruh generasi penerus bangsa.

Momentum peringatan kemerdekaan sepatutnya dijadikan pengingat bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat literasi digital parenting berbasis riset dan nilai keagamaan secara merata. Program pendampingan orang tua perlu melibatkan lembaga pendidikan anak usia dini, majelis taklim, serta penyuluh keluarga agar strategi mediasi aktif dapat menjangkau keluarga di wilayah pinggiran. Pendekatan yang memadukan riset ilmiah tentang dampak gadget dengan nilai moderasi Islam berpotensi melahirkan model pengasuhan digital yang khas Indonesia, sekaligus menjadi kontribusi bangsa memperkuat kedaulatan pengasuhan di tengah arus globalisasi teknologi.

Kemerdekaan yang dirayakan setiap tahun kehilangan makna apabila keluarga Indonesia tetap dikuasai gadget alih-alih mengendalikannya secara bijak. Kedaulatan bangsa di masa mendatang bergantung pada keberanian keluarga menata ulang pola pengasuhan digital sejak usia dini, dipadukan dengan nilai keislaman yang menjaga akhlak dan kearifan lokal. Delapan puluh satu tahun merdeka menjadi momentum tepat bagi Indonesia menegaskan kedaulatan atas teknologi melalui pengasuhan yang cerdas, seimbang, dan berlandaskan riset, agar cita-cita Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur benar-benar terwujud pada generasi digital yang tumbuh hari ini.

Daftar Rujukan

Astuti, R. (2024). Digital parenting pada anak usia dini (studi fenomenologi pengasuhan masyarakat Muslim di era digital) [Disertasi]. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.