Digital Parenting dalam Bingkai Ekologi Perkembangan: Kiai, Nyai, dan Pengasuhan Anak Madura
- Diposting Oleh Admin Web Prodi PIAUD
- Kamis, 20 Agustus 2026
- Dilihat 25 Kali
Oleh Thorik Aziz, M.Pd.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah pengasuhan anak usia dini, termasuk di lingkungan masyarakat Muslim Madura yang selama ini dikenal menjunjung tinggi otoritas kiai dan nyai dalam mendidik generasi. Gadget kini hadir sejak usia dini, menggeser sebagian peran pengasuhan tradisional yang biasa berlangsung dalam pengawasan langsung keluarga dan tokoh agama. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar, apakah kewibawaan kiai dan nyai yang selama ini menjadi rujukan moral keluarga Madura masih relevan menjangkau ruang digital anak yang kian sulit diawasi secara langsung setiap hari?
Persoalan ini sebaiknya dipahami melalui kerangka teori ekologi perkembangan yang dirumuskan Bronfenbrenner (1979), yang menjelaskan bahwa tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh lapisan lingkungan yang saling berkaitan, mulai dari keluarga inti hingga struktur sosial yang lebih luas. Teori ini menempatkan pengasuhan bukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan hasil interaksi antara anak, keluarga, komunitas, serta nilai budaya yang melingkupinya. Pendekatan semacam ini relevan digunakan untuk membaca fenomena digital parenting pada masyarakat Madura, sebab pengasuhan di sana tidak lepas dari peran kiai dan nyai sebagai figur otoritas yang dihormati seluruh warga.
Bronfenbrenner membagi lingkungan perkembangan anak menjadi beberapa lapisan, yaitu mikrosistem berupa interaksi langsung dengan keluarga, mesosistem berupa hubungan keluarga dengan lingkungan sekitar seperti pesantren, eksosistem berupa struktur sosial yang memengaruhi anak secara tidak langsung, serta makrosistem berupa nilai budaya dan agama yang melingkupi seluruh lapisan tersebut. Navarro dan Tudge (2022) memperbarui teori ini dengan menambahkan mikrosistem virtual, sebab anak masa kini juga berinteraksi langsung dengan lingkungan daring melalui gadget setiap hari. Pembaruan ini menegaskan bahwa dunia digital telah menjadi bagian nyata dari lingkungan perkembangan anak, bukan sekadar alat bantu semata.
Kerangka ini relevan diterapkan pada pengasuhan masyarakat Madura, sebab otoritas kiai dan nyai tidak hanya bekerja pada tingkat mikrosistem keluarga, tetapi meluas hingga mesosistem dan makrosistem melalui pesantren, majelis taklim, serta tradisi keagamaan yang mengikat warga secara bersama. Nasihat kiai tentang cara mendidik anak umumnya diikuti bukan karena paksaan, melainkan karena kedudukannya sebagai rujukan moral yang dipercaya turun-temurun. Struktur sosial semacam ini menjadikan pengasuhan anak di Madura bersifat kolektif, sebab keluarga tidak mendidik anak sendirian, tetapi berada dalam pengawasan nilai bersama yang dijaga oleh tokoh agama setempat.
Kehadiran mikrosistem virtual menghadirkan tantangan baru bagi struktur pengasuhan tersebut, sebab anak kini dapat mengakses dunia luar melalui gadget tanpa melewati filter sosial yang biasa dijaga keluarga maupun tokoh agama. Nasihat kiai dan nyai yang efektif mengatur interaksi anak di dunia nyata belum tentu menjangkau konten yang diakses anak secara daring, sebab ruang virtual bersifat pribadi dan sulit diawasi secara langsung. Kondisi ini berpotensi melemahkan fungsi mesosistem tradisional Madura, ketika nilai yang ditanamkan di rumah dan pesantren berhadapan langsung dengan arus informasi global yang belum tersaring oleh nilai lokal.
Tantangan tersebut sebaiknya dijawab dengan memperkuat peran kiai dan nyai sebagai penggerak literasi digital berbasis nilai keislaman, bukan sekadar mempertahankan otoritas secara konvensional. Program pendampingan digital parenting dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan pesantren dan majelis taklim, sehingga orang tua memperoleh panduan konkret mengenai batasan penggunaan gadget yang selaras dengan nilai agama dan budaya Madura. Sinergi antara otoritas keagamaan dan pengetahuan digital semacam ini berpotensi menjaga fungsi mesosistem tradisional, sekaligus membekali keluarga menghadapi tantangan makrosistem digital yang terus berkembang setiap tahun.
Digital parenting pada masyarakat Muslim Madura tidak dapat dipahami hanya dari sisi keluarga inti, sebab kiai dan nyai tetap menjadi simpul utama dalam ekosistem pengasuhan yang lebih luas. Kombinasi antara kewibawaan keagamaan dan pemahaman teori ekologi perkembangan membuka peluang membangun model pengasuhan digital yang khas, tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai keislaman yang telah lama menjadi identitas Madura. Sinergi tersebut menjadi jalan tengah paling realistis agar anak usia dini tetap tumbuh optimal di tengah dunia yang kian dikuasai teknologi digital.
Daftar Rujukan
Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Harvard University Press.
Navarro, J. L., & Tudge, J. R. H. (2022). Technologizing Bronfenbrenner: Neo-ecological theory. Current Psychology. https://doi.org/10.1007/s12144-022-02738-3